Minggu, 04 November 2012

Resume Jurnal: Perselingkuhan dan Perceraian


TUGAS
DEMOGRAFI SOSIAL



PERSELINGKUHAN DAN PERCERAIAN
(SUATU KAJIAN PERSEPSI WANITA)








Oleh :
Ardi Perdana S.       (112020100028)





FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO
2012







PERSELINGKUHAN DAN PERCERAIAN
(SUATU KAJIAN PERSEPSI WANITA)


I.            Permasalahan
Di dalam sebuah perkawinan, pasti selalu mendambakan kehidupan rumah tangga yang harmonis dan berlangsung hingga salah satu diantara keduanya meninggal dunia. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa tidak semua pernikahan dapat bertahan.
Salah satu faktor yang erat berkaitan dengan perkawinan adalah adanya perselingkuhan yang dilakukan oleh pasangan. Meskipun perselingkuhan dianggap sebagai hal yang melanggar norma dan nilai yang ada, tetapi hal tersebut masih sering saja terjadi.
Bila kita melihat upacara pernikahan agama Hindu di Bali, perjanjian antara suami dan istri disimbolkan dengan menghadapi bebanten mabyakala dengan berjalan mengelilingi pesaksian tiga kali searah jarum jam. Hal tersebut dilakukan sebagai janji pasangan suami istri untuk memulai berumah tangga. Tidak hanya itu saja, kedua pengantin juga berkeliling dengan membawa tegen-tegenan dan suwun-suwunan (beban) yang berarti bahwa kedua pasangan berjanji untuk sanggup memikul beban hidup bersama. Bila semua pasangan suami dan istri dapat memahami isi upacara tersebut, maka tidak akan lagi ada perselingkuhan.
Banyak media massa yang memberitakan kisah perselingkuhan baik itu yang dilakukan oleh para tokoh politik, bintang film, maupun milyuner. Sebagai contoh, Bill Clinton dan Gerry Hart pernah terlibat skandal perselingkuhan saat mereka masih sama-sama sebagai kandidat Presiden Amerika Serikat. Tidak berbeda dengan para kandidat Presiden Amerika Serikat, Perdana Menteri Jepang Sosuke Uno juga gagal dalam pemilihan Partai LDP dikarenakan ia diketahui memiliki seorang Geisha. Begitu kerasnya sikap masyarakat dalam menanggapi suatu perselingkuhan hingga para tokoh politik gagal dalam pemilihan.
Hasil The Janus Report mengenai tingkah laku seksual bahwa lebih dari sepertiga pria dan seperempat wanita mengaku pernah melakukan pengalaman seksual minimal satu kali diluar pernikahan. Persentase yang lebih rendah didapatkan dari hasil survei yang dilakukan oleh National Opinion Research Centre yakni 25% pria dan 17% wanita pernah melakukan pengalaman seksual diluar pernikahan.
Seribu orang kependetaan Protestan yang disurvei oleh majalah Leadership tahun 1998 menemukan bahwa 12% mengalami hubungan seksual diluar pernikahan dan 23% pernah melakukan tindakan seksual yang tidak pantas dengan seseorang yang bukan pasangannya.
 Mengapa perselingkuhan masih terjadi? Alasan tidak memiliki anak dan pasangannya mengalami disfungsi seksualitas sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan biologis si suami/istri adalah beberapa alasan yang banyak diutarakan sebagai pemicu terjadinya suatu perselingkuhan.
Bagaimana persepsi seseorang terhadap perselingkuhan sehingga dapat dipandang sebagai suatu pernyataan sikap atau bahkan perilaku, dan sejauh mana orang tersebut mendukung atau menentang perilaku tersebut. Banyak faktor yang memengaruhi seseorang dalam melihat suatu permasalahan. Dalam hal ini, beberapa faktor yang dididuga dapat berpengaruh adalah tingkat pendidikan, status pekerjaan, tingkat pendapatan, dan faktor disfungsi seksual.
Perselingkuhan terjadi diseluruh lapisan masyarakat dan sudah berlangsung sejak lama. Hal ini membuat masalah perselingkuhan ini menarik untuk diteliti. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat diketahui bagaimana persepsi wanita terhadap perselingkuhan dan faktor-faktor dominan apa yang memengaruhi terjadinya suatu perselingkuhan serta bagaimana persepsi mereka mengenai tindak lanjut mengatasi perselingkuhan tersebut.
Metode yang diterapkan dalam penelitian ini yakni metode survei dan wawancara mendalam. Kuesioner digunakan untuk mengumpulkan informasi dari 50 responden yang semuanya berjenis kelamin perempuan dan berada pada kelompok usia 18 – 50 tahun. Berdasarkan sampel yang diambil yaitu 50 orang dianggap sudah cukup untuk menggambarkan keadaan populasi yang diteliti. Penelitian ditujukan pada individu walapun penerapannya mencakup rumah tangga sebagai suatu keseluruhan.
Kota Denpasar dipilih sebagai lokasi penelitian dengan pertimbangan bahwa masyarakat di perkotaan lebih heterogen dan wanita yang berada di perkotaan lebih banyak menyerap informasi dari media massa serta pola hidupnya yang lebih modern jika dibandingkan dengan wanita yan berada di pedesaan.

II.          Pembahasan
Hal apa sajakah yang menyebabkan suatu perselingkuhan terjadi? Sebagian besar para responden menjawab bahwa perselingkuhan terjadi karena adanya faktor-faktor yang berasal dari luar rumah tangga seperti godaan dari wanita lain dan ingin mencari selingan (34%), faktor lain yang menjadi jawaban responden adalah kurang adanya komunikasi dalam rumah tangga (22%) dan 20% responden menjawab perselingkuhan terjadi karena kurangnya perhatian dari pasangan terutama untuk kebutuhan batin.
1.    Persepsi Terhadap Perselingkuhan
Perselingkuhan dalam perkawinan pasti merusak suatu perkawinan dan tidak sedikit yang berakibat pada perceraian. Dalam bahasa Inggris, adultery diartikan sebagai Voluntary sexual intercourse of married person with one of the opposite sex other than his or he spouse (The concise Oxford Dictionary of Current English, 1964).
            Kenyataannya, penampilan fisik bukanlah faktor utama seseorang untuk dipilih sebagai pasangan selingkuh. Dalam banyak kasus ditemukan bahwa seseorang dipilih sebagai pasangan selingkuh lebih dikarenakan pemenuhan kebutuhan dari pasangan selingkuhnya, yang tentu saja tidak bisa didapatkan dalam perkawinan. Hal ini membuktikan bahwa kurangnya pemenuhan kebutuhan emosional menyebabkan seseorang mencari pemenuhannya di luar perkawinan.

2.          Perselingkuhan: Konsekuensi dan Faktor-faktor Penyebab
Suatu perselingkuhan pasti menimbulkan hubungan yang buruk bagi perkawinan, Tidak hanya keluarga, tapi juga dapat berimbas tehadap karir dan pandangan masyarakat sekitar. Walaupun ketika suatu perselingkuhan tidak terungkap, namun tetap saja akan berakibat pada kehidupan rumah tangga. Sebuah rumah tangga yang terjadi perselingkuhan didalamnya akan kehilangan keintiman dan keharmonisan, dan bisa dipastikan akan berpengaruh pada psikologis anak. Seperti yang dikatakan oleh Frank Pittman “The infidelity is not in sex, but in the secrecy. It isn’t whom you lie with. It’s whom you lie to”.
K. Anderson dalam Adultery, Probe Ministries International mengungkapkan bahwa 65% perselingkuhan berakibat pada perceraian dan hanya 35% diantaranya yang dapat rujuk kembali.
            Para responden ketika ditanya mengenai persepsi mereka terhadap perselingkuhan menjawab bahwa perselingkuhan adalah tindakan selingkuh yang dilakukan seseorang dengan lawan jenis yang secara hukum bukan pasangan sah mereka (82%), sedangkan sebanyak 14% responden lainnya beranggapan bahwa perselingkuhan adalah merupakan suatu tindakan yang tidak terpuji.
Sebagian besar responden setuju bahwa perselingkuhan memiliki konsekuensi moral bagi orang yang melakukannya, seperti perasaan bersalah dan berdosa kepada Tuhan dan keluarganya. Hanya 4% responden yang menjawab perselingkuhan adalah suatu perbuatan yang indah karena perselingkuhan dianggap dapat menyegarkan perkawinan yang sudah tumpul. Namun seluruh responden setuju bahwa perselingkuhan mengakibatkan hilangnya ketentraman dalam rumah tangga. Para responden beranggapan bahwa perselingkuhan mengakibatkan ketidakharmonisan dalam rumah tangga (74%), berkurangnya rasa percaya dan hormat anggota keluarga (12%), kurangnya perhatian terhadap keluarga (8%), timbul perasaan curiga terhadap pasangan (4%), dan mengganggu perkembangan jiwa anak (2%).
Ada banyak faktor yang membuat seseorang melalukan perselingkuhan. Kurang atau tidak adanya ketentraman dalam rumah tangga, disfungsi seksual, ambisi yang tinggi terhadap karir, dan faktor finansial diduga menjadi penyebab terjadinya perselingkuhan. Faktor finansial diduga ikut menjadi faktor penyebab perselingkuhan karena saat ini kebutuhan rumah tangga sangat banyak dan beraneka ragam. Pendapatan yang tidak dapat mengimbagi kebutuhan yang tinggi dalam rumah tangga memicu terjadinya perselingkuhan. Hal ini sesuai dengan studi yang pernah dilakukan oleh Harley, Jr. dan F. Williard bahwa dengan meningkatnya pendapatan, meningkat pula adanya kemungkinan selingkuh.
Dr. Williard Harry dalam bukunya His Needs, Her Needs: Building an affair – Proof Marriage mengungkapkan bahwa perselingkuhan terjadi karena adanya perbedaan kebutuhan antara suami dan istri dalam sebuah rumah tangga. Kebutuhan istri meliputi kasih sayang, percakapan, ketulusan dan keterbukaan, komitmen finansial dan komitmen keluarga. Kebutuhan istri tersebut berbeda dengan kebutuhan suami yakni meliputi kebutuhan seksual, kebersamaan dan rekreasi, memiliki pasangan yang menarik, dukungan dalam rumah tangga, dan kekaguman.
3.            Perceraian
Apakah seseorang akan ikut berselingkuh bila pasangannya melakukan perselingkuhan? Ternyata 78% responden menjawab untuk tidak ikut berselingkuh , 52% setuju untuk memaafkan pasangan, dan 62% tidak setuju adanya perceraian.






Tabel: Persepsi Responden Mengenai Tindak Lanjut Menanggapi Perselingkuhan
No.
Tindak Lanjut
Persepsi
Jumlah
Prosentase
1.
Ikut berselingkuh
Setuju
Tidak Setuju
Tidak Tahu
3
39
8
6
78
16

Total
50
100
2.
Memaafkan Pasangan
Setuju
Tidak Setuju
Tidak Tahu
26
18
6
52
36
12

Total
50
100
3.
Bercerai
Setuju
Tidak Setuju
Tidak Tahu
9
31
10
18
62
20

Total
50
100

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Challenges Society mengenai dampak perceraian, ditemukan bahwa 25 tahun setelah orang tua mereka bercerai, seorang anak masih merasakan adanya masalah emosional. Seiring dengan berjalannya waktu, dampak dari perceraian ini semakin meningkat. Molly Dugnan dalam artikelnya di surat kabar harian Universitas Western Ontario The Gazette (2000) juga mengemukakan bahwa dampak dari perceraian dapat meninggalkan begitu banyak reruntuhan.
Terdapat hubungan yang erat antara anak-anak korban perceraian dengan tingkah laku yang tidak normal, kehamilan dini, dan kegagalan perkawinan di masa depan. Menurut Horald Minden seorang pensiunan profesor York University bahwa remaja perempuan yang orang tuanya bercerai, hamil lebih cepat dibanding dengan anak-anak lain yang berasal dari keluarga yang utuh. Anak-anak yang berasal dari rumah tangga yang berantakan berpotensi tiga kali lebih banyak untuk gagal di sekolah, mengalami masalah emosional dan bunuh diri, serta kemungkinan mengalami kekerasan. Hal ini dikarenakan anak-anak tersebut tidak belajar tentang harmoni dan apa yang dipertaruhkan untuk kebahagiaan.
B.D. Schmitt, M.D. (1999) mengungkapkan dampak perceraian terhadap anak berbeda-beda menurut usia, anak usia pra sekolah 3 - 6 tahun, anak usia sekolah 6 - 9 tahun, dan anak usia sekolah 9 – 12 tahun.
Anak usia pra sekolah memiliki ego yang tinggi dan kaku mengenai hal benar dan salah. Mereka biasanya menyalahkan diri sendiri atas kelakuan yang telah mereka lakukan. Anak-anak pada usia ini cenderung mengingkari kenyataan yang ada dan berharap orang tuanya bersatu kembali. Secara umum, anak-anak pada usia ini menjadi takut berpisah dari suatu hal.
Berbeda dengan anak usia pra sekolah, anak usia sekolah 6 – 9 tahun sepenuhnya sadar tentang kenyataan yang terjadi. Mereka cenderung menyalahkan salah satu dari orang tua mereka sebagai penyebab perpisahan.
Sedangkan pada anak usia sekolah 9 – 12 tahun, mereka biasanya menunjukkan kemarahan sebagai reaksi atas perceraian orang tuanya. Anak-anak pada usia ini mungkin menyalahkan kelakuan salah satu atau kedua orang tuanya. Mereka umumnya merasa malu atas apa yang terjadi pada keluarganya dan tidak suka lebih menonjol diantara teman-temannya. Mereka cenderung memiliki pemikiran yang praktis mengenai kehidupan keluarga, khawatir mengenai keuangan keluarga dan apakah mereka mendapatkan aliran uang dari orang tua mereka.
Studi yang dilakukan oleh Judith S. Wallerstein dan Loan B. Kelly (1980) menyatakan bahwa 90% anak-anak yang kedua orang tuanya bercerai mengalami gangguan emosional saat perceraian terjadi, rasa sedih yang mendalam dan perasaan khawatir. Hampir setengah dari 50% anak-anak yang merasa ditolak dan terbuang tidak pernah dikunjungi oleh ayahnya selama tiga tahun setelah perceraian terjadi. 37% anak-anak merasa tidak lebih bahagia setelah 5 tahun orang tuanya bercerai daripada anak-anak yang baru 18 bulan orang tuanya bercerai. Dengan kata lain, waktu tidak dapat menyembuhkan luka anak-anak korban perceraian ini. Beberapa hal inilah yang kadang menjadi alasan kuat bagi orang tua untuk menghindari perceraian dan mempertahankan pernikahan demi masa depan anak-anak mereka.

III.         Kesimpulan
Penelitian menunjukkan bahwa perselingkuhan terjadi karena godaan dari wanita lain dan ingin mencari selingan (34%), kurang komunikasi dalam rumah tangga (22%), kurang perhatian dari pasangan terutama untuk kebutuhan batin (20%), faktor ekonomi (16%), dan pasangan terlalu mendominasi (8%)
Seluruh responden setuju bahwa perselingkuhan mengakibatkan hilangnya ketentraman dalam rumah tangga. Hal yang mengakibatkan hilangnya ketentraman dalam rumah tangga menurut responden adalah karena perselingkuhan mengakibatkan ketidakharmonisan dalam rumah tangga (74%), berkurangnya rasa percaya dan hormat anggota keluarga (12%), kurangnya perhatian terhadap keluarga (8%), timbul perasaan curiga terhadap pasangan (4%), dan mengganggu perkembangan jiwa anak (2%).
Mengenai bagaimana tindak lanjut menanggapi perselingkuhan, 78% responden lebih memilih untuk tidak ikut berselingkuh, 52% setuju untuk memaafkan pasangan, dan 62% tidak setuju adanya perceraian. Banyak responden memilih untuk memperbaiki hubungan rumah tangga daripada harus bercerai dikarenakan dampak perceraian sifatnya buruk bagi anak.
Diketahui bahwa perceraian sangat berdampak terhadap perkembangan jiwa dan emosional anak. Anak-anak dan remaja yangmemiliki tingkah laku yang tidak normal, mengalami kehamilan dini, dan kegagalan perkawinan di masa depan sebagian besar dari keluarga yang orang tuanya bercerai. Dampak perceraian tersebut dapat berbeda menurut usia anak. Anak yang masih berusia antara 3-6 tahun biasanya menyalahkan diri sendiri atas kelakuan yang telah mereka lakukan dan cenderung mengingkari kenyataan yang ada dan. Anak yang berusia antara 6-9 tahun cenderung mempersalahkan salah satu dari orang tua sebagai penyebab perceraian. Anak usia 9-12 tahun mengungkapkan kesedihan mereka dengan kemarahan dan menjadi berpikir praktis mengenai hidup. Mereka umumnya merasa malu atas perceraian kedua orang tuanya dan menjadi khawatir dengan keuangan keluarga dan apakah setelah terjadi perceraian, mereka masih mendapatkan uang saku dari orang tua mereka.
Waktu tidak dapat menyembuhkan luka anak-anak korban perceraian ini. Mereka merasa tidak lebih bahagia meskipun orang tuanya sudah bercerai bertahun-tahun lamanya. Bagaimanapun perkembangan emosional anak secara langsung berhubungan dengan perhatian, kehangatan dan hubungan dengan kedua orang tua secara berkesinambungan.  Beberapa hal inilah yang kadang menjadi alasan kuat bagi orang tua untuk menghindari perceraian dan mempertahankan pernikahan demi masa depan anak-anak mereka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 
;